Tampilkan postingan dengan label manifesto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manifesto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2013

MUTASI JAWA

Saat malam yang dingin dengan obrolan yang sesak, di sebuah kamar kos Suryodiningratan Yogyakarta kami mulai ngelantur  menyentuh pada hal hal mistik, klenik,renik, atom, partikel,habitat dan ekosistem.. Seperti bagaimana jika alien itu sebenarnya nenek moyang kita, hahaha semua mungkin terjadi. Suku suku memulai dari hal yang sama tetapi kemudian berkembang tak karuan, kami adalah jawa tanpa bermaksud fanatisme primordial tetapi dahulu kata asal dan nama pulau ,wilayah, budaya, akulturasi, invasi, dan bla, bla bla..dari  sini kami berandai andai akan muncul prasasti baru sesudah era batu, makam, kitab, pakaian perang, kerajaan dan kotak kotak imajiner....

Simbah berkata tanah boleh tua tetapi jawa itu rasa, seandainya benar umur berkembang dan permainan mengikutinya kami melihat harus ada sisa-sisa dari mainan itu, bagaimana tegur sapa berganti SMS dan pisowanan ageng adalah tempat berdirinya partai politik. Cukup sudah mainan mainan itu berkembang menjadi mutan ..
lingkungan kita bermutasi begitupun kita ....mungkin . Saat ini kami akan mendirikan LAB FARMASI BUDAYA ( MUTASI JAWA)...http://mutasijawa.blogspot.com/

.

Kamis, 03 Juli 2008

sama


agaknya malam ini bulan harus lari lari
esok matahari jelas berpeluh
hari hari berganti
sama saja

diam untuk menang dan gerak untuk lawan







Tentang isi perut politik dan kemerdekaan

Adalah sebuah ironi apabila kekuasaan atas perut seseorang (kelompok) menjadi dasar untuk mempertahankan kemerdekaan, sementara kemerdekaan tersebut berdiri diatas kekusaaan perut orang banyak. Setiap pergantian orde atau masa selalu mengatasnamakan urusan perut rakyat, tetapi ujungnya-ujungnya kepentingan perut (sendiri) mendominasi. 
Kekuasaan atas perut pada dasarnya adalah pembelaan atas segala bentuk konfik. Kemerdekaan bagaikan seurat pusar yang selalu harus di perjuangkan sementara keterbatasan seseorang untuk mempertahakannya berarti kematian, dan perjuangan untuk itu tentu saja membutuhkan pengorbanan (yang besar).
Disini tarik menarik adalah (menawarkan) sesuatu solusi walaupun akhirnya kemenangan (perut) diatasnya juga hadir mendominasi.

Senin, 16 Juni 2008

jivaka




Segala-Nya tergantung tak terkecuali Jivaka. Kisah penggali sumur menimba kesempatan pada suatu landscape keyakinan, tidak berdasarkan teori teori, tidak juga hal hal magic.Budaya mencari sumber air untuk mereka yang membutuhkan seperti Budha dengan otak ketiga. Jivaka adalah contoh logika berdaulat dalam sistem yang tidak kemudian harus dibukukan hanya untuk mengisi kepala terlebih membuat keyakinan setiap orang harus sama. Cara pandang tidak selalu menunjuk pada sebuah tekanan pemahaman. Rasa membawa orang pada sebuah kecerdasan, menjelma menjadi budi dan kemudian mencipta kesadaran hidup.

Penghargaan selalu datang terlambat. Menunggu hasil dan manfaat. Jivaka adalah intifada, jahh, patriot tapi tidak kemudian disebut pahlawan, seperti air yang keluar dari manusia sebagai seni. Jivaka memberi yang seharusnya di berikan, bukankah Muhammad tidak kemudian menyebut dirinya nabi, melainkan penyampai kebenaran.

Dunia ini luas, laut menantang siapa saja yang berani mengarunginya. Sosial memang tak perlu menyimpan apalagi berkeluh kesah. Jivaka dalam pencarian-NYA. Esensi manusia adalah bodoh bahkan untuk merasa sejuknya embun, apalagi menampung hujan. tidak ada cerita untuk anak bajang dan nagagini untuk aqlam yang selalu bergerak.

Jivaka percaya kesetiaan membutuhkan tetes tetes terakhir dari mata yang tak terpenah terpejam. Terlelu basah juga tak baik, Jivaka mungkin bukan Anoman bendung dan lewati . Jivaka juga tak perlu mencari masa karena Musa iklasakan kapal-NYA untuk massa.

Bila Bima bertemu Dewaruci maka Jivaka yakin laut, pantai dan ember mungkin cukup ......... mungkin.

salam

O S A E